Lewati ke konten
Dio Rizkyandita

· Industri Kopi · 7 menit baca

Industri Kopi adalah Bentuk Usaha Rakyat Bantu Rakyat di Kelas Menengah

Di tengah krisis, Rupiah tembus Rp17.000, dan 7,22 juta orang menganggur, Indonesia justru jadi negara dengan coffee shop terbanyak di dunia. Opini dari seorang praktisi yang lebih dari 10 tahun di industri kopi tentang bagaimana secangkir kopi ikut menjadi cara rakyat bantu rakyat, dari lapangan kerja hingga distribusi kekayaan.

Dunia sedang gonjang — ganjing, perang dimana — mana, krisis terjadi hampir di setiap belahan dunia, harga minyak melambung tinggi, harga plastik sudah pasti akan naik, kebutuhan hidup setiap orang terus meningkat bukan karena kebutuhan bertambah banyak, tapi karena nilai tukarnya semakin besar untuk setiap barang, contohnya saja Rupiah terhadap Dollar sudah tembus Rp. 17.000an per tulisan ini dibuat, akhirnya apa ? pengangguran dimana — mana. Menurut data BPS terbaru 2026,

Tingkat Pengangguran Terbuka 2026 7,22 Juta orang per Mei 2026

Lalu apa hubungannya semua penjelasan tadi dengan industri kopi yang kecil ini ?

Sekitar 67% dari total TPT tersebut adalah Usia Muda didominasi Gen Z

lalu apa yang buat semuanya terlihat aman — aman saja ?

Tidak ada yang aman — aman saja untuk saat ini, semua rapuh, semu dan mudah terdistraksi dengan gejolak yang ada, tapi bukan berarti semuanya berhenti lalu kemudian selesai berpasrah, tapi setidaknya sedikit demi sedikit kita bisa lalui, langkah demi langkah ditemani kopi dan industrinya, mungkin kedengaran aneh, kenapa disaat — saat seperti ini malah kopi jadi salah satu juru selamat kita melalui hari — hari sulit ini? emg teh ga? atau matcha ? ya itu sama saja dijual juga di coffee shop, tapi industri kopi turut ambil andil disini.

Kopi mungkin salah satu trend yang cukup lama bertahan dan terus bertumbuh dibandingkan dengan trend lain yang silih berganti menyusupi kehidupan anak muda setiap generasinya, bahkan anak yang tidak muda lagi pun masih terus terbawa arus kopi. Mulai dari hanya sekedar budaya nongki nongkrong, minuman selingan diantara pekerjaan kadang kopi kadang matcha, sampai ke kebiasaan yang bersifat adiktif yang ga bisa hidup jika tidak ada kopi (mungkin ini lebay) tapi nyatanya ada kok, bahkan trend hidup sehat saat ini didalamnya ada kopi sebagai pilihan minuman yang jadi solusi hidup sehat disandingkan dengan lari, sepeda, gym dan seterusnya.

Menurut basis data global melaui Point Of Interest (POI) melalui OpenStreetMap direkam pada november 2025

Indonesia adalah Negara dengan Jumlah Coffee Shop Terbanyak di Dunia dengan 461.991 titik

Jumlah itu mengalahkan negara — negara dengan jumlah penduduk lebih banyak dari Indonesia macam China dan Amerika, Menarik Bukan ? ya walaupun data ini masih perlu dipertanyakan karena berbasis open street map, kemungkinan untuk mengklasifikasikannya jauh lebih sulit karena membedakan coffee shop modern dan tradisional kedai scoopnya parti berbeda, terlepas dari itu yang pasti itu jumlah yang sangat banyak.

Lalu kenapa Industri Kopi ini salah satu cara rakyat bantu rakyat khususnya di kelas menengah?

Kedai Kopi, Coffee Shop dan sejenisnya di Indonesia ini menarik banget, karena datang dari berbagai macam orang yang memulai bisnis, dengan asumsi saja 462 ribu titik Coffee Shop di Indonesia modalnya datang dari berbagai arah. Mendirikan bisnis kopi khususnya Coffee Shop itu bukan sesuatu yang bisa dibilang murah, dalam pikiran saya minimal kamu harus punya budget 20 juta untuk jadi sebuah kedai kecil, ingat loh ya kedai kecil, untuk Coffee shop yang trend itu mungkin modalnya tidak terhingga dan kita tak tahu kapan modalnya akan kembali. kamu bisa buat Coffeeshop hingga 1 milliar, 2 millar atau 20 milliar, tergantung lokasi, alat dan seterusnya, menarik bukan? kalau contoh yang kecil, harga kopi grobak listrik saja sekarang di kisaran 15 hingga 20 juta untuk di kota saya berpijak sekarang.

Tentu para pebisnis atau owner ini tidak datang dari kelas bawah, mereka datang dari kelas menengah hingga kelas atas yang ingin bertaruh di industri kopi ini, merebut hati pelanggan dengan menunya masing — masing hingga membersihkan uangnya yang sebelumnya kotor “ups”.

Tentu apapun alasannya bisnis ya tetap bisnis, dari manapun uang itu berasal bentuk akhirnya adalah minuman atau makanan yang diterima oleh pelanggan saat membelinya, pertukaran nilai tetap terjadi, entah sedikit banyak tidak mengurangi esensinya sebagai Coffee Shop dan gaji setiap orang tetap dibayar tidak peduli kecil atau besar selalu akan terjadi pertukaran nilai dari uang menjadi barang, dari keringat menjadi uang.

Kenapa si selalu ada asumsi bisnis Coffee Shop yang cuci uang ya sesimple kalian baca berita ada cafe di Cipete ada brangkas kurang lebih 60 Milliar, bagaimana mungkin sebuah cafe punya brangkas hingga 60 Milliar, kita akan berusaha berpikiran positif mungkin itu akumulasi keuntungan hingga saat ini yang menumpuk, tapi rasanya pikiran positif itu seringkali menguap berganti dengan kecurigaan yang didukung oleh terduganya sedang diperiksa polisi yang sangat dekat dengan kekuasaan.

Terlepas dari itu semua business is still business, tapi lebih menariknya pekerja di Coffee Shop itu bukan hanya dari kelas bawah hingga menengah saja, tapi menegah ke atas juga rela bekerja menjadi barista, tidak jarang pekerjaannya barista namun berangkat kerja dengan roda 4 alias mobil, bahkan kadang mobil pekerja jauh lebih bagus dan mahal dari mobil pemilik Coffee Shop, walaupun tidak sering dijumpai dan kadang motivasinya pun berbeda, kadang mereka dari kalangan atas justru bekerja untuk terlihat lebih membumi, keren, atau mencari pengalaman untuk bersiap membuka tempat mereka sendiri, dan ujung — ujung kalian tau bahwa sebentar lagi akan bertambah satu coffee shop baru setelah si orang dari kelas atas merasa cukup pengalaman. dan bertambahlah satu coffee shop baru begitu seterusnya hingga Kiamat hehe.

but but but itu ga ada masalah selama proses pendistribusian kekayaan ini terus berlanjut menurutku ya sah sah saja jika adaorang punya panggilan untuk membuat usaha, setiap orang punya hak dengan uang yang mereka punya untuk membuat usaha, tapi jangan lupa juga kewajiban sebagai sebuah usaha adalah untuk tetap bertahan, membayar pekerja, bahan baku, sewa tahunan, listrik, jasa bersih — bersih, air, cup plastik , pajak jangan lupa PB1 dan masih banyak lagi, dan mungkin ini adalah proses pendistribusian kekayaan yang memang harus ditempuh. Pekerja mendapatkan Upah jika dia sedang sekolah maka bisa membayar biaya sekolah, main tanpa membebani orang tua, supplier bahan baku tetap bisa berputar dengan cashflownya untuk membayar pekerja mereka juga hingga bisa menghidupi keluarganya, pemilik bangunan/ruko mendapatkan penghasilan pasif income dari propertinya dan akhirnya bisa menabung, juga berkontribusi ke daerah dengan membayar pajak PB1 retoran nanti uang tersebut sebagian di korupsi sebagian lagi di distribusikan sebagai pendapatan daerah, jasa bersih — bersih, tukang harian dan pekerja2 lepas ini juga kebagian pekerjaan dan menerima pembayaran sehingga mereka tetap bisa bertahan hidup.

Menarik bukan ? Kelas Menengah yang terus bertambah, atau bahkan kelas menengah yang berkurang bukan karena mereka naik level tapi justru turun level ke kelas bawah ini menjadi masalah yang cukup kompleks untuk diurai satu per satu, banyaknya pengangguran baru tentu ini menjadi masalah Negara ini, banyaknya pekerja lepas harian ini membuat masalah menjadi runyam karena rentan hantaman badai yang tiba — tiba baik pinjol, judol, dan dol dol lainnya.

Lebih dalam lagi dengan semua masalah itu Industri Kopi hadir di setiap celah masalah itu semua menyediakan tempat untuk pekerja lepas, tempat untuk melepas stress, tempat untuk menghasilkan pundi penghasilan baru, atau hanya sekedar duduk bengong berfikir besok mau ngapain setelah PHK.

Kopi sebagai buah, biji, minuman atau space tidak henti — henti memberikan solusi, memang benar bahwa dibutuhkan sebuah solusi jangka panjang dan lebih bertahan lama dari hanya sekedar menyeruput kopi dan menghilangkan penat sementara akibat pikiran yang campur aduk, memang benar standar gaji di dunia ini masih belum sepenuhnya setara, bahwa pelanggan belum terbiasa dengan harga kopi yang cukup tinggi karena harga GB tidak turun — turun sejak tahun kemarin, ini musti menjadi perhatian khusus setiap pelaku bisnis di Industri ini bagaimana menyikapi ini, tapi setidaknya sedikit menjadi solusi lebih baik daripada tidak sama sekali, dan jika praktik pencucian uang ini benar dan susah di berhentikan, teruslah mencuci dan sedikit banyaknya mendistribusikan kekayaan itu agar kita merasakan hasil cuciannya.

Opini ini di tulis bukan oleh ahli kopi, ahli barista atau ahli bisnis kopi dan coffee shop, jadi wajar kalau kurang — kurang dan salah — salah, kalau kurang tinggal ditambahkan, kalau salah tinggal dibenarkan, as simple as that. Opini ini ditulis oleh seorang yang telah lebih dari 10 tahun di industri ini hingga saat ini dan menjadikan industri ini tetap sebagai tumpuannya hingga saat ini. itulah saya.

salam, Dio Rizkyandita